1 Ayat Qauliyah dan Kauniyah

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍۢ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

2 Berpikirlah

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ.

3 Poligami Rasulullah SAW

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,.

4 Luqman Al-Hakim

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.

5 Les Ngaji Iqro

(seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”(QS. Ali-‘Imran: 190-191).

Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Saturday, June 25, 2016

AGAMA DAN KEKERASAN SEKSUAL




Oleh: Dr. Budi Handrianto

Pada umumnya, manusia menganut agama agar hidup teratur dan tidak kacau. Dengan menganut agama, hidup menjadi aman, tenang, tentram, damai, dan tidak kacau. Kalaupun ada peperangan agama, pada dasarnya ingin menuju kedamaikan karena peperangan tersebut dilakukan melawan kezaliman.
Terlebih lagi, agama yang dianut manusia selain mengatur masalah kehidupan sehari-hari, juga berkaitan dengan keyakinan atas sesuatu hal yang ghaib dan metafisik. Ia berkaitan dengan kepercayaan terhadap sesuatu yang tinggi dan agung (supreme being).

Dengan demikian, agama menduduki tingkatan tertinggi dalam keyakinan seseorang terhadap segala sesuatu. Menurut M Renville dalam bukunya Prolegomenes de l' histoire des religions, sebagaimana dikutip Durkheim, agama merupakan daya penentu hidup manusia, yaitu sebuah ikatan yang menyatukan pikiran manusia dengan pikiran misterius yang menguasai dunia dan diri yang dia sadari dan dengan hal-hal yang menimbulkan ketentraman bila terikat dengan hal tersebut (Emile Durkheim, 2003:56).

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More